Welcome Dear

Minggu, 09 Maret 2014 / 04.27 / 0 comment(s)




Jendela ini mengingatkanku padamu. Karena dari sini aku dapat melihatmu sedang fokus membaca di gazebo pinggir kolam rumahku. Aku pun betah berlama-lama memandangimu yang tampan mengenakan kacamata. Dan aku tahu, berapa lama aku di sini kau tidak akan mencariku sebelum buku itu selesai kau baca. Kau bahkan tidak akan menyadari jika aku pergi keluar untuk membeli makanan. Aku harus menarik perhatianmu baru kau akan terlepas dari buku-mu.
            Aku sengaja membuat bunyi langkahku gaduh, tapi kau tetap tenang fokus terhadap apa yang kau baca. Aku geram, kuletakkan nampan dan kutarik buku itu darinya,”Sekarang tataplah aku.” Aih, kata itu terlalu menggelikan untuk keluar dari mulutku. Tapi dia benar menatapku dan tersenyum mengerti. Aku duduk dihadapannya dan membuka buku itu. Semua tulisannya dalam bahasa inggris yang tidak kumengerti. Entah apa yang membuatnya tidak pernah bosan membaca banyak buku seperti ini. “Apa kau tidak bosan membaca buku seperti ini setiap saat? Aku saja sudah bosan hanya dengan membacanya sepintas.”
            Dia terkekeh kecil dan tiba-tiba mencondongkan tubuhnya mendekat padaku, “Itu kan, karena kau tidak mengerti bahasa inggris. Kalau kau bisa, kau pasti akan tertarik.” Ujarnya lalu mengecupku dibibir sambil mengambil bukunya dari tanganku. Itu membuatku terkejut dan malu.
            “Walaupun aku bisa, aku tidak akan membaca buku seperti itu. Aku benci buku itu. Karena buku itu telah merebutmu dariku. Aku membencinya.”
Dia selalu tiba-tiba melakukan hal itu. Pernah aku memarahinya dan bertanya kenapa dia senang membuatku terkejut dengan tiba-tiba mengecupku. Dan jawabannya membuatku tampak bodoh dan semakin malu. Katanya, “Karena aku senang melihat wajahmu memerah setelah kukecup. Karena kau sangat manis.” Ucapnya sembari tersenyum senang seperti tak ada beban. Dan kecupan itulah yang kurindukan sekarang. Sangat kurindukan.
            Sudah begitu lama semenjak perpisahan itu. Perpisahan yang damai dan berakhir senyuman walau itu palsu. Bahkan walau telah berpisah kita tetap mengobrol, berkirim email. Aku selalu tersenyum jika melihat isi ceritanya yang terasa bersemangat. Aku tahu disana dia bahagia. Atau... aku harus berpikir bahwa dia sengaja menulis seperti itu agar aku tak khawatir. Tapi setelah dua bulan dia berhenti mengirimi aku email. Entah karena dia bosan atau dia sedang sibuk atau mungkin dia memang benar-benar telah melupakanku. Sepertinya kemungkinan terakhir yang paling aku takuti. Walau aku tahu dia tidak mungkin melupakanku secepat itu, tapi pikiran-pikiran itu selalu muncul terbayang dikepala hingga meneteskan air mata. Aku tahu ini semua salahku. Dia ingin pergi, tapi bukan untuk berpisah. Dan aku dengan mudah melepaskan genggamannya. Aku begitu naif, berharap agar aku tak mengganggunya meski dibalik itu aku tak mau dia pergi. Benar, percuma menyesalinya. Aku tidak akan menyesalinya, itu tekadku.
            Tetapi...setelah 3 tahun kami dipertemukan kembali. Entah angin apa yang membawaku untuk datang ke tempat favorit kita dan aku juga ingin tahu apa yang bisa membawanya ke sini hingga kami dapat bertatapan lagi. Di hadapan bangku dimana kami selalu duduk bersama aku dapat menatapnya yang juga menatapku. Kami membeku tak bergerak sama sekali. Kami hanya saling menatap dan enggan untuk memulai pembicaraan. Sepertinya kami sama-sama takut untuk merusak suasana. Sama-sama cukup hanya dengan melihat satu sama lain. Sepertinya kontak yang kurasa telah memudar, sekarang terjalin kembali dengan waktu singkat.
            Dia mulai berjalan pelan menghampiri tanpa melepaskan pandangannya. Dia pun tersenyum, menyeretku untuk bejalan mendekatinya. Langkah kami berhenti bersamaan. Aku mulai bingung untuk memikirkan kata apa yang harus aku keluarkan. Tapi bahkan aku takut membuka mulutku. Bagaimana kalau suara yang kukeluarkan nanti terdengar aneh? Aku tidak ingin terlihat gugup didepannya.
            Hatiku yang beku seakan di lelehkan oleh angin hangat yang berdesir menerpa tubuhku. Kami sama-sama saling mengerti perasaan apa yang ada sekarang hanya dengan melihat satu sama lain. Aku dapat melihat dari bola matanya kerinduan yang sama yang kurasakan sekarang. Dia mulai melangkah cepat kearahku dan berhenti tepat dihadapanku. Awalnya aku sedikit terkejut dan telah bersiap jika ia langsung memelukku. Tapi dia berhenti di depanku. Dan dua detik kemudian tangannya telah merengkuhku ke dalam pelukannya.
“Aku pulang...”
 Air mata yang sejak tadi kutahan kini jatuh bebas membasahi bajunya. Pelukan ini yang amat kurindukan selama ini.

created by: d.lopi

#THE END#

Label: , ,


OLD / NEW